Sabtu, 04 Juni 2016

akhlak tasawuf



BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Masalah

 Salah satu ilmu yang dapat membantu terwujudnya manusia yang berkualitas adalah ilmu Tasawuf. Ilmu tersebut satu mata rantai dengan ilmu-ilmu lainnya dengan pada sisi luar yang dhahir yang tak ubahnya jasad dan ruh yang tak dapat terpisah keduanya. Ilmu tersebut dinamakan juga ilmu bathin sebagaimana pendapat Syekh al-Manawi dalam kitab Faed al-Qadir dalam menjelaskan hadis Nabi :

‘Ilmu itu dua macam, ilmu yang ada dalam qalbu, itulah ilmu yang bermanfaat dan ilmu yang diucapkan oleh lidah adalah ilmu hujjah/hukum, atas anak cucu Adam. Dari Abi Syaebah dan Hakim dari Hasan dan dikatakan Syekh al-Manawi bahwa ilmu bathin itu keluar dari qalbu dan ilmu dhahir itu keluar dari lidah.          
 Bahwa ilmu bathin yang keluar dari qalbu itu adalah tasawuf, yang dikerjakan dan diamalkan oleh qalbu atau hati, dan ilmu dhahir yang keluar dari lidah adalah ilmu yang diucapkan oleh lidah dan diamalkan oleh jasad yang disebut juga ilmu syari’ah.
            Ilmu tersebut tidak dapat terpisah keduanya karena ilmu dhahir diucapkan dan digerakkan oleh tubuh/jasad dan ilmu bathin diamalkan oleh qalbu dan serentak pengamalannya bersamaan keduanya. Hal tersebut menunjukkan bahwa ilmu tersebut tidak dapat dipisahkan keduanya bahkan makin dalam ilmu Tasawuf seseorang itu semakin mendalam pula pengamalan syari’at-nya dan kewarasannya. Seorang Sufi sangat menjaga syari’at-nya dan bathin-nya, bahkan keluar masuk nafasnya dan khatar (kata hatinya) itu, juga dipeliharanya.
            Orang-orang yang memelihara nafasnya yakni keluar masuk atau turun naiknya nafas itu berbarengan dengan disertai dzikir rahasia melalui qalbu-nya, misalnya dzikir Allah ( الله ) misalnya pada saat itu nafasnya keluar/turun, dan dengan dzikir hua ( هو ) pada saat nafasnya masuk/naik, amalan seperti ini adalah amalan-amalan Sufi.
            Selama manusia itu bernafas, maka dzikir bathin tersebut dapat diamalkan baik di waktu duduk, berdiri, maupun berbaring, bahkan dalam kondisi bagaimanapun dzikir bathin itu dapat diamalkan.           
Manusia yang amalannya demikian tidak terpisah dengan Allah, sehingga sulit untuk melupakan Allah, apalagi berpikir berbuat dosa dan melanggar perintah Allah, karena tidak akan dapat berkumpul bersama-sama pada waktu bersamaan pada seseorang dalam qalbu-nya, nafasnya ber-dzikir kepada Allah, sementara jasadnya berbuat dosa. Tetapi yang pasti adalah ber-dzikir qalbu-nya dan diamalkan oleh jasadnya dan masuk sampai dalam sumsum tulang, atau dimensi dalam dan amalan cara itu pula yang disebut Tasawuf.
            Tasawuf sebagai sumsum tulang atau dimensi dalam, dari wahyu ke-Islaman, adalah upaya dalam yang luhur, dimana tauhid tercapai. Semua orang Islam yakin akan kesatuan sebagaimana terungkap di dalam syahadat.           
Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa Tasawuf adalah salah satu dari ilmu-ilmu ke-Islaman yang begitu menarik untuk dikaji. Oleh karena itu, pada makalah ini akan diuraikan :
B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah yang dimasud dengan tasawuf  ?
  1. Bagaiman sejarah timbul dan perkembangan tasawuf ?
3.      Bagaiman fungsi tasawuf secara umum dan khusus?

C.    Tujuan Penulisan Makalah
      1.  Untuk mengetahui pengertian tasawuf
      2.  Untuk mengetahui sejarah timbul dan perkembangan tasawuf
      3.  Untuk mengetahui bagaiman fungsi tasawuf secara umum dan khusus

   







BAB II
PEMBAHASAN


A.    Pengertian Tasawuf

Sangat sulit menentukan berasal dari kata apa perkataan tasawuf atau sufi itu, karena sangat banyak pendapat yang muncul mengenai hal ini, seperti :
a.       Ada yang berpendapat bahwa kata tasawuf berasal dari kata shuffatul masjid yang artinya serambi masjid. Pendapat ini dihubungkan dengan kebiasaan orang-orang fakir islam yang tidak mempunyai keluarga dan tempat perlindungan , mereka selalu mengambil tempat diserambi masjid Madinah untuk meningkatkan amal, menyempurnakan bathin dan jiwa. Mereka tidak tergerak ketempat pertanian, perniagaan,dan rasulullah mendorog manusia untuk menolong mereka, memberi makan mereka , dan duduk bersama mereka. ( PPPTA IAIN SU, 1981/1982:1)[1]
b.      Ulama lain berpendapat bahwa kata tasawuf berasal dari kata shaf  yang artinya barisan dalam shalat. Hal ini dihubungkan dengan kebiasaan orang-orang sufi yang selalu mengambil tempat di barisan ( shaf) pertama pada setiap shalat berjamaah di masjid.
c.       Sebagian uluma lagi berpendapat bahwa kata tasawuf berasal dari kata shuf, artinya bulu domba. Hal ini dihubungkan dengan kebiasaan orang sufi pada masa dulu yang selalu memakai kain wool ( terbuat dari bulu domba) sebagai pelambang prinsip kehidupan mereka yang mengutamakan kesederhanaan dan menjauhi kemewahan.
d.      Sebagian lagi berpendapat bahwa kata tasawuf berasal dari kata shafa yang berarti kesucian, hal ini dihubungkan dengan kebiasaan dan prinsip hidup sufi yang senantiasa ingin suci, jauh dari segala bentuk yang haram, yang kotor, supaya dapat lebih dekat dengan Sang pencipta.



e.       Ada pula yang mengtakan bahwa kata tasawuf dalam bahasa arab berkaitan erat dengan kata shofis = kebijaksanaan dalam bahasa Yunani . dan umumnya kaum orientalist mendukung pendapat ini dengan mengatakan bahwa ilmu tasawuf dalam dunia islam belum berkembang sebelum dimasuki pengaruh filsafat Yunani. Tetapi pendapat ini ditolak oleh ulama-ulama tasawuf.

 Pengertian Tasawuf Secara Terminology
Ada banyak definisi yang telah dibuat oleh untuk menjelaskan pengertian tasawuf secara terminology. Berikut  beberapa diantaranya: 
a. Menurut Abu Qasim al-Qusyaeri  (376-466), tasawuf ialah penjabaran ajaran Alquran, sunnah, berjuang mengendalikan hawa nafsu, menjauhi perbuatan bid’ah, mengendalikan syahwat, dan menghindari sikap meringankan ibadah.[2]
b. Menurut Ahmad Amin tasawuf ialah bertekun dalam ibadah, berhubungan langsung dengan Allah SWT., menjauhkan diri dari kemewahan duniawi, berlaku zuhud terhadap yang diburu oleh orang banyak, dan menghindari dari mahluk dalam berkhalwat untuk beribadah.[3]
            c. Sedangkan tasawuf menurut Zakaria al- Anshari ialah mengajarkan cara untuk mensucikan diri, meningkatkan akhlak, berlaku zuhud terhadap yang diburu oleh orang banyak, dan menghindari dari mahluk dalam berkhalwat untuk beribadah mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh hubungan langsung dengannya.[4]




            d. Dan menurut Ibrahim Hilal dalam bukunya ‘Tasawuf Antara Agama dan Filsafat’, bahwa tasawuf pada umumnya bermakna menempuh kehidupan zuhud, menghindari gemerlap kehidupan dunia, rela hidup dalam keprihatinan, melakukan berbagai jenis amalan ibadah, melaparkan diri, mengerjakan  shalat malam, dan melakukan berbagai jenis wirid sampai fisik  atau dimensi jasmani seseorang  menjadi lemah dan dimensi jiwa atau ruhani menjadi kuat.[5]
            Apabila melihat beberapa definisi diatas, maka dapat diperoleh ungkapan yang singkat dan padat yang mencakup  dua segi yang keduanya membentuk satu kesatuan yang saling menunjang dalam mendefinisikan tasawuf yang pertama adalah cara dan yang kedua adalah tujuan. Cara, diantaranya melaksanakan berbagai rangkaian peribadatan, latihan-latihan rohani  sepeerti zuhud.  Sedangkan tujuannya ialah mendekatkan diri kepada sang Khalik yang puncaknya ialah penyaksian (masyadah).
            Uraian di atas menunjukan betapa sulitnya menetukan asal kata tasawuf tersebut. Kesulitan ini akan lebih nampak lagi dalam membahas definisi tasawuf itu sendiri. Kesulitan mendefinisikan tasawuf itu disebabkan :
1.      Esensi tasawuf adalah pengalaman bathin diri. Pengalamn bathin adalah sesuatu yang sukar diungkapkan dalam bentuk kata-kata.
2.      Lain sufi akan berbeda pengalaman bathin dengan sufi-sufi yang lain, karena itu , apabila tasawuf sebagai pengalaman bathin hendak didefinisikan, niscaya akan muncul definisi sejumlah orang yang mencoba mengungkapkan peengalaman bathinnya Tuhan itu.
[6]Oleh karena itu memudahkan menemukan pengertian tentang tasawuf , kiranya cara yang ditempuh oleh ibrahim Basyuni dipandang lebih mudah dipahami. Seperti dikutip oleh Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam IAIN SU ( PPPTA IAIN SU ) dalam buku pengantar ilmu tasawuf, Ibrahim Basyuni terlebih dahulu mengkategorikan definisi-definisi taswuf yang banyak itu berdasarkan 3 sudut pandang yaitu :
1.      Pendefinisian Tasawuf dari Sudut Bidayah
Pendefinisian Tasawuf dari Sudut Bidayah maksudnya adalah perasaan manusia dengan fitrahnya bahwa tidak semua yang ada ini dapat menguasai dirinya. Dibalik semua ini ada hakikat agung yang memelihara rohnya, menenangkan jiwanya sehingga berusaha bersungguh-sungguh mendekati Zat Yang Agung itu menyerupai dan berhadapan dengan Nya. Dia merasakan pada waktu itu pemisah antara dia dengan yang di ajak berhadapan ini, kemudian sedikit demi sedikit akan terbuka setiap dia berusaha memasuki Zatnya.
Dan kalau sifat tamaknya semakin berkurang dan jasadnya semakin hilang, maka pada waktu itu anggota badannya akan dipenuhi oleh limpahan nur yang masuk menghidupkan intuisi dan mendorong gerakan tangkas lebih tenang.
Dari sudut fitrah ini, PPPTA IAIN SU ( 1981/1982:4) menggunakan defenisi tasawuf antara lain :[7]
a.       Ma’ruf Al Karkhy mengemukakan bahwa : tasawuf adalah mengambil hakikat dan putus asa dari apa yang ada ditangan makhluk, maka siapa yang tidak benar-benar fakir dia tidak benar-benar bertasawuf.
b.      Abu Turab Al-Nakhsaty mengemukakan bahwa : sufi ialah orang yang tidak mengotori dirinya dengan sesuatu sehingga bersihlah dengannya segala sesuatu.
c.       Sahl bin Abdullah Al-Tustary mengemukakan bahwa : sufi ialah orang yang bersih dari kekeruhan dan penuh dengan fikiran dan terputuslah dia dari manusia dan terpusatlah kepada Allah ,dan menyamakan antara emas dan loyang.
d.      Dzul Al-Nun Al-Mishri : sufi ialah orang yang tidak menyusahkan baginya atas segala permintaan dan tidak menyusahkan bagi diri ketiadaan.
e.       Abu Al-Husein Al-Nury : sufiyah ialah kaum yang bersih dari segalah kekeruhan manusia dan penyakit batin dan mereka bebas dari pengaruh syahwat hingga jadilah mereka pada shaf yang pertama dan derajat yang tinggi beserta kebenaran , tatkala mereka meninggalkan apa yang selain Allah jadilah mereka tidak dimiliki dan memiiki. Abu Husein juga mengatakan bahwa: Tasawuf adalah meninggalakan sejumlah yang menjadi bahagian dirinya agar yang Al-Haq menjadi bagiannya. Dalam ucapan lain juga dia mengatakan, tasawuf adalah membenci dunia  dan mencintai Allah.

2.      Pendefenisian dari segi jahidah ( kesungguhan)
Defenisi tasawuf dari sudut kesungguhan ini telah dimulai dengan pendekatan amaliyah yaitu dengan merendahkan diri dan pengamalan agama dan pengenalan semua fadhila-fadhilahnya. Diantara defenisi tasawuf dari sudut Jahidah ini adalah sebagai berikut :
a.       Abu Muhammad AL-Jari mengaakan : tasawuf adalah memasuki semua akhlak sunni dan keluar dari semua akhlak yang rendah.
b.      Al- Kanany mengatakan : Tasawuf adalah akhlak,maka apabila bertambah atas mu akhlak , maka bertambahlah atas mu kesucian.
c.       Al-Nury mengatakan : tasawuf itu bukanlah lukisan atau ilmu, akan tetafi dia adalah akhlak.
d.      Sahl Bin Abdullah mengatakan : tasawuf adalah sedikit makan dan takut menghadap Allah dan lari dari manusia.
e.       Sam Nun mengatakan : tasawuf adalah bahwa engkau tidak memiliki sesuatu dan tidak dimiliki sesuatu.
f.       Ruaim mengatakan : tasawuf terdiri dari tiga perangai : berpegang kepada kekafiran dan mengharap Allah merendaahkan diri dan mendahulukan orang lain tidak menonjolkan diri dan tidak berusaha.

3.      Pendefenisian dari segi yang dirasakan
Bahwa tasawuf adalah kesadaran fitrah yang dapat mengerahkan jiwa kepada kegiatan –kegiatan tertentu untuk mendapatkan suatu perasaan berhubungan dengan wujud Tuhan yang Mutlak.
Dari uraian-urain diatas dapat diambil kesimpulan bahwa tasawuf adalah kehidupan kerohanian yang berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan dengan berbagai cara.



B.     SEJARAH TIMBULNYA TASAWUF DAN PERKEMBANGANNYA

   Diskusi dan pembicaraan tentang darimana asal tasawuf dalam dunia sudah berlangsung sejak lama, dan banyak pendapat yang bermunculan . Ada yang mengatakan bahwa tasawuf dalam dunia islam adalah barang baru yang diimport dari luar islam, ada pula yang mengatakan bahwa tasawuf adalah semata-mata bersumber dari islam itu sendiri.[8]
Pendapat pertama mungkin didasarkan pada fakta sejarah bahwa sebelum agama islam ada, praktek hidup kerohanian ala tasawuf sudah ada dan berkembang pada penganut-penganut agama terdahulu , seperti Agama Nasrani, Budha, Hindu, dan lain sebagainya. Sedangkan pendapat kedua didasarkan pada kenyataan bahwa dalam ajaran islam itu sendiri terdapat unsur-unsur tasawuf.
Memang tasawuf dalam islam telah ada bersamaan dengan datangnya agama islam itu sendiri. Hal ini dapat dilihat dari.
1.      Cara hidup Muhammad SAW sendiri sebagai pembawa ajaran islam, yang senantiasa memperaktekkan hidup zuhud yang mana zuhud adalah salah satu ajaran/ amalan terpenting dalam bertasawuf.
2.      Bahwa dalam AL Qur’an sendiri banyak ayat-ayat yang secara langsung atau tidak langsung menyuruh manusia bertasawuf. Ayat-ayat al -Quran tersebut antara lain adalah sebagai berikut : [9]
a.       Surah Al-Hadid ayat 20 :
.....
Artinya : Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan dan perhiasan...

b.      Surah fathir ayat 5 :
  
Artinys :  Hai manusia, Sesungguhnya janji Allah itu adalah benar, Maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah orang yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.
c.       Surah An-nur ayat 35 :
...
Artinya : Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi....

d.      Surah Al- Baqarah ayat 186 yang berbunyi :
....
Artinya: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, ..[10]

e.       Surah Al-Baqarah ayat 115 yang berbunyi :
....
Artinya : Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, Maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah....

f.       Surah Qaaf ayat 16 yang berbunyi :
  
Artinya : Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,

g.      Surah Al-Anfal ayat 17 yang berbunyi :
....
Artinya :  Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melontar...

Di samping ayat-ayat Al-Quran di atasa, hadits Nabi sebagai sumber ajaran kedua dalam islam yang mengisyaratkan supaya manusia bertasawuf seperti hadis-hadis berikut :

a.       Artinya : orang-orang yang mengenali dirinya merekalah yang mengenali Tuhannya.
 Hadis ini mengandung arti bahwa manusia dengan Tuhan adalah satu, karena itu untuk mengetahui / mengenal Tuhan orang tak perlu pergi jauh-jauh .cukup ia masuk kedalam dirinya dan mencoba mengenal/ mengetahui dirinya. Dengan kenal kepada dirinya , ia akan kenal kepada Tuhannya,

b.      Artinya : Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi kemudian Aku ingin dikenal , maka kuciptakanlah makhluk dan melalui Aku merekapun kenal kepada-Ku.
 Hadis ini mengatakan bahwa Tuhan ingin dikenal dan untuk dikenal itu Tuhan menciptakan makhluk. Ini mengandung arti bahwa tuhan dengan makhluk itu adalah satu, karena melalui makhluk Tuhan dikenal.[11]

            Ajaran-ajaran agama Al-Quran inilah yang di amalkan oleh Rasul sehingga beliau menjadi seorang Zuhad ( zahid ), hidup sederhana dengan pakain yang di tambal-tambal, ucapannya sedikit, shalat di waktu malam hari dalam waktu yang panjang dan tidak makan kecuali yan di perolehnya. Prilaku zuhud Rasul ini ditiru dan dilanjutkann oleh para sahabat dalam bentuk yang lebih bervariasi. Demikian seterusnya pada masa tabi’in-tabi’in, hidup zuhud Rasul ini lebih dikembangkan secara lebih bervariasi, bahkan dimodifikasi dalam bentuk model baru dan menjadilah tasawuf dan pelakunya disebut Mutashowwifun.
            Akan tetafi perkembangan zuhud Rasul menjadi bentuk tasawuf., menurut sebagian peneliti tidak terlepas dari pengaruh dari unsur-unsur luar berupa ajaran agama lain seperti :
1.      Pengaruh kristen dengan paham menjahui dunia dan hidup mengasingkan diri dalam biara-biara. Dalam literatur Arab terdapat tulisan-tulisan tentang rahib-rahib yang mengasingkan diri di padang pasir Arabia. Lampu yang mereka pasang di malam hari menjadi petunjuk jalan bagi khalifah yang berlalu. Kemah mereka yang sederhana menjadi tempat berlindung bagi orang yang kemalaman dan kemurahan hati mereka menjadi tempat memperoleh makan bagi musafir yang kelaparan.
 Dikatakan bahwa zahid dan sufi islam yang meninggalkan dunia, memilih hidup sederhanadan mengasingkan diri, adalah atas pengaruh cara hidup rahib-rahib kristen ini.
2.      Falsafat Mistik Pytagoras yang berpendapat bahwa roh manusia bersifat kekal dan berada di dunia sebagai orang yang asing. Badan jasmani merupakan penjara bagi roh. Kesenangan roh yang sebenarnya ialah di alam samawi, manusia harus membersihkan dengan meninggalkan hidup materi atau menempuh hidup zuhud , untuk selanjutnya berkotemplasi . Ajaran pytagoras untuk meninggalkan dunia dan pergi berkotemplasi , inilah dipandang sebagian orang telah turut mempengaruhi timbulnya zuhud dan tasawuf dalam islam.
3.      Falsafat Emanasi Plotinus yang mengatakan bahwa wujud ini mecari dari zat Tuhan Yang Maha Kuasa.Roh berasal dari Tuhan dan aka kembali kepada Tuhan. Tetapi dengan masuknya ke alam materi, roh menjadi kotor, sehingga untuk dapat kembai tempat asalnya, roh harus terlebih dahulu dibersihkan. Cara membersihkan roh adalah dengan meninggalkan dunia dan mendekati Tuhan sedekat mungkin, atau bersatu dengan Tuhan itu. Dikatakan bahwa filsafat pilotinus ini turut memberikan pengaruh terhadap berkembangnya pola hidup sufisme ( tasawuf ) dalam islam.
4.      Ajaran budha dengan paham Nirwana-nya . seperti diajarkan dalam agama Budha bahwa seorang yang ingin mencapai nirwana, maka orang tersebut harus meninggalkan dunia dan memasuki hidup kotemplasi. Menutur sebagian pengamat, paham fana yang terdapat dalam sufisme islam adalah turut dipengaruhi oleh ajaran tentang nirwana dalam agama Budha ini.
5.      Ajaran-ajaran hindu yang juga mendorong manusia untuk meninggalkan dunia dan mendekati Tuhan, untuk mencapai persatuan Atman dengan Brahmana. Dalam ajaran Hindu dan Budha, diyakini bahwa alam ini hanyalah “maya”  ( bayangan ) dari zat yang Maha Kuasa yang tidak punya wujud, karena itu jangan sampai tertipu dengan kehidupan dunia.

Dari semua uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa sebenarnya tasawuf islam adalah bersumber dari ajaran islam itu sendiri sekalipun ajaran serupa ada dianut oleh agama-agama sebelumnya. Tetapi dalam perkembangan berikutnya tidak dapat dipungkiri bahwa tasawuf  islam telah mendapat pengaruh dari unsur-unsur ajaran agama lain.

C.    Fungsi Tasawuf Secara Umum dan Khusus
[12]Fungsi tasawuf dalam hidup menjadikan manusia berkepribadian yang shalih dan berperilaku baik dan mulia, serta ibadahnya berkualitas. Mereka yang masuk dalam sebuah tarekat atau aliran tasawuf diharuskan mengisi kesehariannya untuk hidup sederhana, jujur, istiqamah dan tawadhu, serta sifat-sifat keshalehan lainnya. Berikut uraian fungsi tasawuf secara umum dan khusus :
Fungsi umum:
1.       Agar kita itu mencontohi Rasulullah dalam perilaku kehidupan sehari-hari.
2.       Menyeimbangkan lahir dan batin dunia dan akhirat.
3.      Agar hati ini teduh redup biar tidak gelisah.
4.      Membuat kesadaran sosial menjadi lebih tinggi.
Fungsi khusus:
1.      Untuk membersihkan hati kepada Allah.
2.       Membersihkan jiwa dari pengaruh keduniaan.
3.       Menerangi jiwa dari kegelapan.
4.       Memperteguhkan dan menyuburkan keimanan.



BAB III
PENUTUP

  Kesimpulan
            Demikianlah penjelasan singkat mengenai tasawuf sebagaimana terpaparkan diatas. Dan sebagai akhir dari pembahasan bisa di tarik kesimpulan diantaranya:
a.        Tasawuf pada umumnya merupakan usah untuk melaksanakan ajaran agama Islam secara murni dengan maksud untuk mendekatkan dirai kepada Allah SWT. dengan cara menempuh kehidupan zuhud, menghindari gemerlap kehidupan dunia, rela hidup dalam keprihatinan, melakukan berbagai jenis amalan ibadah, melaparkan diri, mengerjakan  shalat malam, dan melakukan berbagai jenis wirid sampai fisik  atau dimensi jasmani seseorang  menjadi lemah dan dimensi jiwa atau ruhani menjadi kuat.
b. pembicaraan tentang darimana asal tasawuf dalam dunia sudah berlangsung sejak lama, dan banyak pendapat yang bermunculan . Ada yang mengatakan bahwa tasawuf dalam dunia islam adalah barang baru yang diimport dari luar islam, ada pula yang mengatakan bahwa tasawuf adalah semata-mata bersumber dari islam itu sendiri.
Pendapat pertama mungkin didasarkan pada fakta sejarah bahwa sebelum agama islam ada, praktek hidup kerohanian ala tasawuf sudah ada dan berkembang pada penganut-penganut agama terdahulu , seperti Agama Nasrani, Budha, Hindu, dan lain sebagainya. Sedangkan pendapat kedua didasarkan pada kenyataan bahwa dalam ajaran islam itu sendiri terdapat unsur-unsur tasawuf.
Memang tasawuf dalam islam telah ada bersamaan dengan datangnya agama islam itu sendiri. Hal ini dapat dilihat dari.
3.      Cara hidup Muhammad SAW sendiri sebagai pembawa ajaran islam, yang senantiasa memperaktekkan hidup zuhud yang mana zuhud adalah salah satu ajaran/ amalan terpenting dalam bertasawuf.
4.      Bahwa dalam AL Qur’an sendiri banyak ayat-ayat yang secara langsung atau tidak langsung menyuruh manusia bertasawuf. Ayat-ayat al -Quran tersebut antara lain adalah sebagai berikut :


c.       Fungsi Tasawuf Secara Umum dan Khusus
Fungsi tasawuf dalam hidup menjadikan manusia berkepribadian yang shalih dan berperilaku baik dan mulia, serta ibadahnya berkualitas. Mereka yang masuk dalam sebuah tarekat atau aliran tasawuf diharuskan mengisi kesehariannya untuk hidup sederhana, jujur, istiqamah dan tawadhu, serta sifat-sifat keshalehan lainnya. Berikut uraian fungsi tasawuf secara umum dan khusus :
Fungsi umum:
Agar kita itu mencontohi Rasulullah dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Menyeimbangkan lahir dan batin dunia dan akhirat.
Agar hati ini teduh redup biar tidak gelisah.
Membuat kesadaran sosial menjadi lebih tinggi.
Fungsi khusus:
Untuk membersihkan hati kepada Allah.
Membersihkan jiwa dari pengaruh keduniaan.
 Menerangi jiwa dari kegelapan.
Memperteguhkan dan menyuburkan keimanan.












DAFTAR PUSTAKA

Tim Penyusun Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, Jakarta: PT. Ictiar Baru Van Hoeve, jilid 5, 1993,
A. Mustafa, Akhlak Tasawuf, 1997,Bandung: Pustaka Setia.

Ibrahim Hilal, Al-Thasawwuf al-Islami Bain ad-Din wa al-Falsafah, terj. Ija Suntana dan E. Kusdian,  Tasawuf Antara Agama dan Filsafat Sebuah Kritik Metodologis,2002(Cet. I; Bandung Pustaka Hidayah, )

IAIN SU ( PPPTA IAIN SU ),pengantar ilmu tasawuf.

Miswar,dkk,2015.Aklak Tasawuf Membangun Karakter islam. Medan : Perdana Publising

Ummu Kalsum, Ilmu Tasawuf. 2002 (Cet. II; Makassar: Yayasan Fatiyah Makassar,)
















[1] PPPTA IAIN SU, 1981/1982:1


[2]Tim Penyusun Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, Jakarta: PT. Ictiar Baru Van Hoeve, jilid 5, 1993, h. 74.
[3]Ibid. h. 75.
[4]A. Mustafa, Akhlak Tasawuf, Bandung: Pustaka Setia, 1997, h. 207.

[5] Ibrahim Hilal, Al-Thasawwuf al-Islami Bain ad-Din wa al-Falsafah, terj. Ija Suntana dan E. Kusdian,  Tasawuf Antara Agama dan Filsafat Sebuah Kritik Metodologis, (Cet. I; Bandung Pustaka Hidayah,  2002), h. 19


[6] IAIN SU ( PPPTA IAIN SU ),pengantar ilmu tasawuf.

[7] PPPTA IAIN SU ( 1981/1982:4)

[8]Miswar,dkk,2015.Aklak Tasawuf Membangun Karakter islam. Medan : Perdana Publising.h.139

[9] Ibid,hlm.139

[10] Ibid,hlm,140

[11] Ibid,hlm.143

[12] Ummu Kalsum, Ilmu Tasawuf, (Cet. II; Makassar: Yayasan Fatiyah Makassar, 2002), h. 3


Artikel durhaka kepada orang tua



Top of Form
Bottom of Form
Durhaka Kepada Orang Tua

DURHAKA KEPADA ORANG TUA
Suatu kisah yang mungkin telah akrab di telinga sebagian pembaca. Kisah tentang Juraij, sosok pemuda shalih dari kalangan bani Israil yang menjadi buah bibir kaumnya karena ketaatannya. Suatu ketika, saat Juraij sedang shalat di dalam mihrab, ibundanya memanggil. Hati pemuda ni pun berbisik penuh kebimbangan, “Ya Allah, manakah yang harus kupilih, shalatku ataukah menjawab panggilan ibuku?” Ia pun memilih untuk meneruskan shalatnya. Kejadian serupa terulang keesokan harinya. Rupannya sikap Juraij yang tidak menjawab panggilan ibundanya, membuat sang Ibu kecewa dan marah. Akhirnya terucaplah sebait doa dari kedua bibirnya, “Ya Allah, jangan kau wafatkkan Juraij sebelum ia bertemu dengan wanita pezina”. Doa sang Ibu menjadi kenyataan, Juraij dituduh berzina dengan seorang pelacur hingga si wanita melahirkan bayi.
Hanya saja kuasa Allah membuat sang bayi mampu berbicara dan menjelaskan siapa sebenarnya ayah sang bayi. Juraij pun terbebas dari tuduhan berzina.
Penuturan kisah diatas menunjukkan betapa penting memperhatikan orang tua. Hanya tidak menjawab penggilan ibundanya saja sudah demikan akibatnya. Apalagi dengan ‘uquuqul walidain (durhaka kepada orang tua) yang banyak menyentuh keseharian manusia. Jelas sekali, uquuqul walidain merupakan akhlak tercela yang berseberangan dengan jiwa Islam. Islam dengan lantang mengumandangkan birrul walidain (berbakti kepada orang tua) sebagai akhlak mulia. Islam dengan gamblang menjelaskan tentang agungnya hak kedua orang tua, kebesaran derajat dan luhurnya martabat mereka. Perintah yang tergurat secara tegas untuk berbakti kepada kedua orang tua serta larangan keras mendurhakai mereka berulang-ulang diulas dalam Kitabullah dan diperinci lebih dalam di sunnah Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Kiranya, betapapun Islam telah memahatkan keagungan pada kedudukan orangtua, tetap saja fenomena uquuqul walidain ini bergulir, semakin menyebar dan menjelajah dalam denyut kehidupan. Manusia semakin jauh dari tuntunan yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Budaya Barat yang jelas-jelas menyelisihi etika Islam menjadi sandaran banyak orang.
Teladan Salafush Shalih yang mengukir sejarah kehidupan di atas pendar cahaya keimanan menjadi hal asing dan tak dikenal.
Pembahasan masalah uquuqul walidain ini sangat perlu untuk diketengahkan, agar kita dapat menjauhinya, dan sebagai peringatan bagi orang-orang yang terjerumus pada perbuatan dosa besar ini agar segera bertaubat dari kesalahannya, Kesalahan bukan hal paten yang tidak bisa diubah dan dikoreksi, dan koreksi atas sebentuk kesalahan adalah sebuah kemungkinan. Karena manusia selalu berubah. Dan tidak ada perubahan yang diharapkan kecuali ke arah yang lebih baik. Perubahan merupakan dinamika kehidupan manusia sebagai sunnahtullah yang berlaku bagi hamba-Nya.
Jika saja seorang hamba mau meniti jalan yang mengantarkan mereka kepada sebaris solusi dari sekerat permasalahan , sebagaimana firman Allah Ta’ala
إِنَّ اللهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوْا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri [Ar Ra’du : 11].
Dan juga sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ وَ إِنَّمَا الْحِلْمُ بِالتَّجَلُّمِ، وَ مَنْ يَتَحَرَّ الْخَيْرَ يُعْطِهِ، وَ مَنْ يَتَوَقَّ الشَّرَّ يُوْقَ
“Sesungguhnya ilmu didapatkan melalui belajar, sikap santun diperoleh melalui berlatih, barangsiapa bersungguh-sungguh mencari kebaikan niscaya akan diberi, dan barang siapa menjaga diri dari kejelekan niscaya akan dijaga”. [Dikeluarkan oleh Al Khatib dalam tarikhnya 9/127 dan dihasankan oleh Syaikh Al Albany dalam Ash shahihah (342)]
DEFENISI UQUUQUL WALIDAIN
Al- ‘uquuq (durhaka) adalah lawan kata dari al- birr (berbuat baik). Ibnu al- Manzhur berkata: mendurhakai bapak artinya keluar dari ketaatan kepadanya, mendurhakai orang tua berarti memutuskan hubungan dengan mereka dan tidak menjalin kasih sayang kepada mereka” [Lisanul Arab10/256]
Ia juga berkata: “dan di dalam hadits, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mendurhakai para ibu, dan al-‘ uquuq adalah lawan dari al-birr. Makna asal kata al-uquuq adalah asy-syaqq ( membelah) dan al-qath’u (memotong/memutuskan)” [Lisanul Arab 10/257]
CELAAN UNTUK UQUUQUL WALIDAIN
Uquuqul walidain merupakan satu dosa besar diantara daftar dosa –dosa besar yang lain. Larangan uquuqul walidain menyertai larangan berbuat syirik kepada Allah. Uququl Walidain dapat mengakibatkan turunnya adzab bagi pelakunya di dunia, dan merupakan sebab tertolaknya amalan dan salah satu sebab masuk neraka. Uquuqul walidain merupakan sikap pengingkaran terhadap keutamaan dan kebaikan, semacam indikasi kedunguan hati dan bentuk kebodohan perilaku serta gejala kekerdilan jiwa.
Hal tersebut terpatri pada pelaku uquuqul walidain, tidak lain karena hak orang tua yang sedemikian unggul, dan kedudukan mereka yang begitu tinggi. Berbuat baik kepada keduanya merupakan amalan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah, amalan paling utama dan amalan yang paling dicintai oleh Allah. Perintah birrul walidain (berbuat baik kepada kedua orang tua) menyertai perintah untuk bertauhid kepada Allah, dan merupakan sebab masuknya seseorang ke surga. Fitrah manusia secara konvensi mengakui wajibnya birrul walidain dan dipertegas lagi dengan syariat samawi yang menyepakatinya.
Birrul walidain merupakan akhlak para nabi, kebiasaan orang-orang salih, satu sebab bertambahnya umur, keluasan rizki, terbebas dari kesusahan, terkabulnya doa, kebaikan hidup, serta sebab bagi baiknya seorang anak dan keshalihannya. Birrul walidain merupakan pembuktian atas benarnya keimanan seseorang, kemuliaan jiwa dan kesempurnaan loyalitas.
Di dalam Al-Qur’an banyak disebut tentang hak-hak orangtua dan perintah untuk berbakti kepada keduanya serta melarang mendurhakai mereka. Allah ta’ala telah menempatkan hak orangtua setelah hak-Nya dalam banyak ayat.
Firman Allah ‘Azza wa Jalla.
وَاعْبُدُوا اللهَ وَلاَتُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukannya dengan sesuatupun, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak. [An-Nisaa : 36]
Dan firmanNya.
قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَاحَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلاَّتُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
Katakanlah:”Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Rabbmu, yaitu janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua.[Al-An’am : 151]
Lalu firmanNya yang lain
وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلآ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَتَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu maka janganlah sekali-kali kamu mengatakan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapakanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan” ucapkanlah: “Wahai Tuhanku kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil. [Al-Isra : 23-24]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah menjelaskan perintah birrul walidain secara gamblang, dan melarang mendurhakai mereka dalam banyak hadits, diantaranya adalah riwayat Ibnu Mas’ud Radhiallahu ‘anhu, ia berkata:
سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم :أَيُّ عَمَلٍ أَحَبُّ إِلَى اللهِ تَعَالَى؟ قَالَ: اَلصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا. قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: بِرُّ الْوَالِدَيْنِ .قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: اَلْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ
Aku bertanya kepada Rasulullah n :“Amalan apakah yang paling dicintai Allah Ta’ala? Beliau menjawab:”Shalat pada waktunya, “ Aku bertanya “ Kemudian apalagi?” Beliau menjawab:”Berbakti kepada kedua orangtua” Aku bertanya:”Kemudian apalagi?” Beliau menjawab:” Jihad fi sabilillah” [Al Bukhari /527, dan Muslim/85]
Dan juga riwayat lain dari sahabat Abdullah bin Al ‘Ash Radiallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda :
اَلْكَبَائِرُ : الإشْرَاكُ بالله وَ عُقُوْقُ الْوَالِدَيْنِ وَ قَتْلُ النَّفْسِ وَ الْيَمِيْنُ الْغَمُوْسُ
Dosa-dosa besar (diantaranya adalah):berbuat syirik kepada Allah, durhaka kepada orangtua, membunuh jiwa dan sumpah palsu. [Al Bukhari 6675].
JENIS – JENIS UQUUQUL WALIDAIN
Uquuqul walidain memiliki banyak bentuk dan beragam jenisnya, antara lain:
1. Membuat keduanya menangis baik dengan perbuatan ataupun ucapan.
2. Menghardik keduanya dengan menyemburkan kata keras dan kasar, berseru “ah” dan berkeluh kesah saat diperintah keduanya Allah Ta’ala berfirman.
فَلاَ تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ
“Maka jangan sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”[Al-Isra : 23]
3. Bermuka masam dan mengerutkan kening dihadapan mereka.
4. Memandang dengan pandangan marah dan merendahkan, memalingkan muka, memotong pembicaraan, mendustai serta membantah ketika mereka berbicara
5. Tidak membantu pekerjaan rumah orangtua, bahkan memerintah mereka seperti layaknya pembantu; seperti memerintah ibu menyapu rumah, mencuci baju atau pun menyiapkan makanan. Perilaku seperti ini tidak boleh dilakukan terutama jika sang ibu telah lemah dan sakit. Adapun jika sang ibu melakukannya dengan senang hati (bukan karena perintah anak) maka hal ini boleh saja, dengan rasa terimakasih kepadanya dan tetap mendoakannya.
6. Mengkritik makanan buatan ibu. Dalam hal ini ada dua larangan, pertama larangan mencela makanan karena Rasulullah tidak pernah mencela makanan sedikitpun, jika beliau suka beliau makan dan jika beliau tidak suka beliau tidak memakannya. Kedua, kritikan terhadap masakan ibu menunjukkan minimnya adab anak kepada ibu.
7. Tidak menganggap dan tidak menghargai pendapat mereka.
8. Tidak minta izin saat masuk menemui mereka.
9. Memancing masalah di depan mereka dan menjatuhkannya dalam lubang kesulitan.
10. Memercikkan caci maki, laknat, dan celaan terhadap orang tua di hadapan orang banyak, membeberkan aib dan mencemarkan nama baik mereka dengan cara melakukan perbuatan hina yang menghilangkan kemuliaan dan kewibawaan.
11. Membawa kemungkaran-kemungkaran ke rumah dan melakukannya dihadapan mereka.
12. Membebani mereka dengan segunung permintaan.
13. Mendahulukan ketaatan kepada istri daripada ketaatan kepada orangtua (untuk laki-laki), adapun wanita yang telah bersuami, maka ketaatan kepada suami wajib diutamakan daripada ketaatan kepada orangtua.
14. Meninggalkan mereka di saat mereka membutuhkan (misal dengan menitipkan di panti jompo).
15. Berlepas diri dari mereka, merasa malu jika menyebut dan menisbatkan diri kepada mereka
16. Menganiaya, memukul, mendiamkan dan menasehati mereka dengan cara yang tidak baik ketika mereka terlibat dalam kemaksiatan
17. Bakhil, kikir mengungkit-ungkit dan menghitung-hitung pemberian dan bantuan yang diberikan kepada mereka
18. Mencuri harta orangua.
19. Mengharapkan kematian orangtua atau pun membunuh mereka agar terbebas dari mereka.
SEBAB-SEBAB UQUUQUL WALIDAIN
1. Ketidaktahuan akan adanya adzab bagi orang yang melakukan dosa tersebut serta (ketidak tahuan akan) adanya pahala bagi mereka yang berbakti kepada orangtua.
2. Pendidikan yang buruk. Orang tua tidak mendidik anak di garis ketaqwaan, kebaikan, menyambung tali silaturahmi, serta jalan-jalan keluhuran, sehingga menggiring anak kepada uquuqul walidain.
3. Adanya kontradiksi ucapan dan perbuatan orangtua yang menyebabkan ketidak selarasan antara anak dan orangtua. Orangtua memerintah anak dengan suatu perintah sementara mereka sendiri tidak melaksanakan perintah tersebut atau bahkan melakukan hal yang bertentangan. Padahal dalam konteks pendidikan islami, konsistensi (keistiqomahan) orangtua dalam menjalankan syariat merupakan satu faktor penting bagi keberhasilan pendidikan anak dan pembentukan kepribadian mereka. Anak memiliki potensi besar untuk mencontoh.apa yang mereka lihat dan mereka dengar.
4. Perlakuan buruk orang tua terhadap anak.
5. Kedurhakaan orang tua kepada orang tua mereka sendiri. Ini adalah faktor penyebab yang paling banyak terjadi. Jika seseorang mendurhakai orang tuanya maka ia akan dibalas dengan kedurhakaan anaknya sendiri kepadanya, karena dua alasan, pertama: karena anaknya mencontoh perbuatannya tersebut, kedua: balasan suatu perbuatan adalah sebanding dengan perbuatan tersebut.
6. Minimnya ketaqwaan orang tua saat terjadi perceraian. Tidak selamanya konflik rumah tangga dapat terselesaikan dengan baik. Tak jarang sebuah konflik berakhir dengan perceraian. Terkadang pula perceraian tersebut berlangsung dengan cara yang tidak baik. Tatkala anak-anak berada bersama ibu, sang ibu membeberkan aib sang ayah kepada anak-anaknya dan menghasut mereka untuk menjauhi dan mendiamkan sang ayah. Demikian halnya yang dilakukan oleh sang ayah ketika anak-anak mengunjunginya. Disadari atau tidak hal ini akan mendorong anak untuk mendurhakai keduanya.
7. Diskriminasi diantara anak yang pada akhirnya akan menumbuhkan kebencian kepada orang tua, sehingga perselisihan dan percekcokan mewarnai hubungan diantara anak-anak.
8. Mengutamakan kesenangan hidup pribadi daripada berbakti kepada orang tua.
Sebagian manusia yang memiliki orangtua berusia lanjut dan sakit-sakitan, menginginkan segera terbebas dari keduanya, baik dengan cara mengirim keduanya ke panti jompo atau pun dengan mencari tempat tinggal jauh dari mereka, demi kesenangan hidup pribadi.. Padahal tidaklah mereka akan merasakan sebersit ketenangan dan secuil kebahagian hidup kecuali dengan senantiasa menyertai, menemani orangtua dan berbuat baik kepada mereka.
9. Minimnya motivasi orang tua dalam membimbing anak-anak untuk berbakti kepada orangtua, sementara proses internalisasi nilai-nilai selain islam semakin deras mengalir merebut perhatian anak-anak., sedangkan penanaman prinsip pada diri anak-anak harus dilakukan sedini mungkin. Seorang anak, jika tidak mendapatkan bimbingan dan arahan, akan cenderung menyimpang dan meremehkan masalah birrul walidain (berbuat baik kepada orangtua)
10. Akhlaq istri yang buruk. Seorang istri yang berakhlaq buruk cenderung menghalangi suaminya ketika sang suami hendak berbuat baik kepada orangtua dan berusaha menghasut sang suami untuk mengeluarkan mereka dari rumah agar dia merasa lebih leluasa.
11. Minimnya kepekaan anak terhadap musibah yang menimpa orang tua.
SOLUSI
Dari ulasan di atas dapatlah kita ketahui bahwa uquuqul walidain adalah perbuatan tercela yang tidak layak dilakukan oleh pribadi yang mendapat petunjuk, yang memiliki akal, ketaqwaan serta keshalihan. Perbuatan tercela ini tidaklah terlahir kecuali dari pribadi yang buta akan agung dan luhurnya kedudukan orangtua, akan gemilangnya derajat dan martabat sepasang ayah ibu. Tidakkah kita membayangkan betapa besar pahala yang Allah janjikan bagi orang yang memuliakan keduanya dan betapa keras ancaman siksa bagi mereka yang mendurhakai keduanya?.
Oleh sebab itu, jawaban dari permasalahan ini tidak lain adalah kembali kepada ajaran dien islam secara kaffah. Mempelajarinya dengan segenap kesungguhan untuk kemudian direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. sebagai bentuk pengabdian Dan semata-mata karena berharap balasan di sisi Allah dan takut ancaman siksa-Nya yang keras dan pedih. Dan hendaklah kita mencontoh akhlaq salafush sahlih, generasi terbaik umat ini.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk ke dalam golongan hamba-Nya yang masuk ke dalam Islam secara kaffah dan mengamalkannya dengan sebenar-benar pengamalan.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah atas diri Rasulullah, keluarga serta para shahabat beliau.
(Disadur oleh Hanin Az Zarqa’ Asy syirbuniyyah dari kutaib Uquuqul Walidain;asbaabuhu, mazhahiruhu,subuulul’ilaaj karya Muhammad bin Ibrahim Al Hamd; Daar Ibni Khuzaimah cetakan III/1416H-1997 hal. 3-37)
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun VI/1423/2002M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax

Rabu, 01 Juni 2016

Jalan Memperoleh Pengetahuan



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pengetahuan adalah cabang filsafat yang ber urusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, pengandaian-pengandaian dan dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Mula-mula manusia percaya bahwa dengan kekuasaan pengenalannya ia dapat mencapai realitas sebagaimana adanya para filosof pra Sokrates, yaitu filosof pertama di alam tradisi Barat, tidak memberikan perhatian pada cabang filsafat ini sebab mereka memusatkan perhatian, terutama pada alam dan kemungkinan perubahan, sehingga mereka kerap dijuluki filosof alam.

MEMPERBAIKI SISTEM REM TROMOL MOBIL

MEMPERBAIKI SISTEM REM TROMOL MOBIL
A. DASAR TEORI REM TROMOL
  
1.  Landasan Teori Umum
          Pengertian Rem
Rem adalah komponen pengontrol umum untuk mengontrol kendaraan dan lainnya, dengan gerakan
antara bagian yang berputar yaitu piringan dengan kanvas. Laju kendaraan harus dapat dihentikan
dengan paksa, maksudnya tidak harus menunggu kendaraan berhenti dengan sendirinya. Hal ini
untuk keselamatan, kemudahan dan efisiensi waktu.

Wanita yang Ingin Bertaubat dari Zina



Wanita yang Ingin Bertaubat dari Zina
Berikut ada kisah yang bisa diambil pelajaran mengenai wanita yang ingin bertaubat dari zina dengan ingin menjalani hukuman rajam. Hukuman rajam dikenakan bagi orang yang telah menikah lantas berzina dengan cara dilempar batu hingga mati. Siapa yang menjalani hukuman ini yang dijalankan oleh pemerintahan muslim (bukan individu atau kelompok Islam tertentu), maka dosanya bisa dimaafkan. Ini bagi orang yang benar-benar jujur dalam bertaubat dan menyesali dosa yang telah ia perbuat.
Adapun ketika hukum ini tidak dijalankan oleh penguasa, maka hendaklah pelaku zina bertaubat dengan sungguh-sungguh, benar-benar menyesali dosanya, meninggalkan dosa tersebut dan bertekad tidak lagi mengulanginya. 

Pengertian Silaturrahim



        a. Pengertian Silaturrahim
Silaturahmi secara bahasa berasal dari dua kata, yakni silah (hubungan) dan Rahim (Rahim perempuan) yang mempunyai arti Hubungan nasab, kata al-Arham (rahim) diartikan sebagai Silaturahmi. Namun pada hakikatnya silaturahmi bukanlah sekedar hubungan nasab, namun lebih jauh dari itu hubungan sesama muslim. merupakan bagian dari silaturrahmi, sehingga Allah SWT mengibarat kan umat Islam bagaikan satu tubuh. Sebagaimana firman-Nya :

Tips Cara Cepat dan Mudah Belajar Matematika

Tips Cara Cepat dan Mudah Belajar Matematika


1.      Cobalah untuk Mencintai Pelajaran Matematika
Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa kebanyakan dari kita sudah merasa takut sebelum mempelajari matematika karena menganggap matematika adalah suatu pelajarna yang sulit. Coba kalian rubah terlebih dahulu cara pandang kalian terhadap pelajaran ini. Anggaplah matematika sebagai suatu pelajaran yang mudah dan yakini bahwa kalian pasti bisa memahami setiap materi matematika jika belajar dengan sungguh-sungguh. Jika kalian memang memiliki niat yang kuat untuk mempelajarinya, kalian pasti akan bisa menaklukan rumus-rumus yang ada di dalam pelajaran matematika.
2.      Gunakanlah Logika Berfikir
Memahami sebuah materi matematika terkadang tidak hanya membutuhkan kemampuan dalam melakukan perhitungan akan tetapi kita juga harus mengasah kemampuan kita dalam menggunakan logika di dalam berfikir untuk bisa memahami sebuah materi di dalam pelajaran matematika.

3.      Belajar dengan Cara yang Menyenangkan
Pelajarilah matematika dengan cara-cara yang menyenangkan. di jaman sekarang ini kita bisa dengan mudah menemukan berbagai media belajar matematika. misalnya kita bisa mempelajari matematika melalui beragam jenis video yang menjelaskan materi-materi matematika yang bisa kita temukan di youtube. Dengan begitu kalian tidak akan merasa bosan ketika belajar matematika dan dengan perasaan hati yang senang, biasanya kita bisa lebih mudah dalam memahami suatu materi.

4.      Gunakan Strategi Belajar yang Benar
Untuk bisa memahami setiap pelajaran, tentu ada teknik dan strategi tertentu agar kita bisa lebih mudah dan cepat dalam menguasainya. Nah, di dalam mempelajari matematika juga ada strategi yang harus kalian gunakan agar materi-materi yang ada bisa lebih mudah untuk dipahami. Berikut adalah langkah-langkah yang semestinya kalian lakukan dalam belajar matematika:
  • Pertama-tama kalian coba pahami rumus-rumusnya dengan baik. Amati dengan seksama sampai kalian bisa memahaminya.
  • Kemudian kelompokkan rumus-rumus tersebut sesuai materinya. Bila perlu tuliskan rumus-rumus tersebut di sebuah kertas kemudian tempelkan di tempat yang sering kalian lihat agar kalian bisa menghapalnya dengan baik.
  • Perhatikan contoh-contoh soal yang diberikan pada materi tersebut.
  • Cobalah berlatih untuk mengerjakan latihan soal-soal yang berkaitan dengan materi yang kalian pelajari.
  • Jika kesulitan dalam mengerjakan soal, cobalah untuk melihat rumus-rumus yang sudah kalian catat tadi.
  • Terus berlatih dengan soal-soal yang lain.

5.      Jangan Pernah Putus Asa
Hal terpenting di dalam mempelajari materi matematika adalah jangan pernah merasa putus asa ketika merasa kesulitan dalam memahami sebuah materi. Jika kalian merasa tidak bisa memahaminya, cobalah untuk bertanya kepada orang tua, atau teman kalian yang panda dalam pelajaran matematika. Jika masih belum mengerti, tanyakanlah kepada guru kalian di sekolah. Intinya jangan pernah menyerah, setiap materi pasti bisa kalian pahami jika kalian memang memiliki keteguhan hati dalam mempelajarinya.


Itulah beberapa tips dan cara cepat dan mudah belajar matematika yang bisa kalian terapkan. Jangan pernah menyerah dan teruslah berdoa agar kalian dipermudah oleh Tuhan untuk bisa menguasai materi matematika. Teruslah belajar kalian pasti bisa!!